9 Fakta Perwira TNI AD Tabrak Lari Pengendara Motor, Dibuang Kesungai Dan Berakhir Di Pecat

9 Fakta Perwira TNI AD Tabrak Lari Pengendara Motor, Dibuang Kesungai Dan Berakhir Di Pecat (Sumber: newstagar.com)

Jakarta, Beritaborneo.id – Kasus tabrak lari pengendara motor di Nagrek yang dilakukan oleh tiga Perwira Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia.

Pasalnya ketiga perwira TNI AD setelah melakukan penabrakan, korban berjenis kelamin laki-laki dan perempuan berboncengan tersebut dibuang kesungai, dan pelaku melarikan diri.

Menurut informasi yang di dapat tim beritaborneo.id dikutip dari suara.com, korban adalah Handi Saputra (16) dan Salsabila  (14) dengan status pacaran.

Sedangkan pelaku yakni Kolonel Infanteri P, Kopral Dua DA dan Kopral Dua A.

Kolonel Infanteri P adalah perwira TNI AD yang saat ini bertugas di Korem Gontolao Kodam Merdeka, Kopral Dua DA bertugas di Kodim Gunung Kidul Kodam Diponeogoro, sedangkan  Kopral Dua A bertugas di Kodim Demak Kodam Diponegoro.

  1. Korban Dibuang Ke Sungai Dari Atas Jembatan

Korban yakni Handi (16) dan Salsabila (14) sedang berboncengan dan melaju keluar jalan raya pada Rabu (8/12/2021). Sedangkan mobil isuzu hitam Panther berplat polisi B 300 Q kemudian bertabrakan.

Akibat dari terjadinya tabrakan tersebut, pengendara motor yang berboncengan tersebut mengalami luka parah dan langsung dibawa oleh pengendara dengan kendaraannya.

  1. Keterangan Saksi Mata

Melalui kanal youtube kompastv, dalam keterangan yang disampaikan saksi mata yakni Sohibul Iman menjelaskan yakni sebagai berikut:

“Saya habis dari mengisi bensin di pom bensin,”

“Saya melihat kejadian atau mendengar kejadian tabrakan lalu lintas di Kampung Pandai,”

“Posisinya perlawanan, yang mobil dari arah Bandung menuju Tasik, sepeda motor dari arah Tasik menuju arah Bandung.”

“Spontanitas saya lari ke arah motor korban karena melihat motor korban tergeletak di tengah jalan dan mengangkat kendaraan korban yang berada ditengah jalan.”

“Setelah itu ada yang turun dari mobil. Lalu, orang yang turun dari mobil seperti mencari-cari, dan bertanya dimana korban?”

“Lalu saya kasih tahu, korban di bawah mobilnya, saya menghampiri ke korban dan korban dibawa ke pinggir, tapi saya tidak ikut membawa mereka yang membawanya ke pinggir saya menghampiri korban melihat barangkali korban saya kenal, tapi saya tidak mengenal.”

“Korban dibawa ke mobil. Jadi mereka menyuruh ayo bawa ke mobil cepat kita bawa ke rumah sakit terdekat, dan tanggung jawab bawa ke rumah sakit terdekat cepat gitu.”

“Saya melihat korban untuk laki-laki masih ada gestur tubuh yang bergerak, dia kesakitan saya spontan saya bawa ke dalam mobil si pelaku itu atau penumpang mobil itu.”

Baca Juga:  Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,7 Guncang Malang Hingga Yogyakarta

“Saya bawa masukin ke mobil di area belakang atau di bagasinya itu.”

“Yang perempuan juga sama di bawa, tapi saya tidak ikut membantu yang perempuan, karena saya tidak tega melihat kondisi dari perempuan tersebut.

“Korban perempuan itu untuk yang perempuan saya lihat ada luka di bagian kepala dan saya rasa itu cukup parah. Sedangkan untuk yang laki-laki saya tidak melihat luka di luar tapi nggak tahu kalau di dalam.”

“Di dalam mobil saya lihat di waktu kejadian mungkin 3 orang itu tidak termasuk supir tapi tidak tahu juga ikut turun atau tidak, yang saya lihat hanya 3 orang itu 2 orang sama saya membawa yang laki-laki yang yang satunya lagi yang menyuruh memasukkan korban itu ke dalam mobil,”

“Ada yang menyebutkan, bentar belum ada polisi hanya itu saja yang saya dengar.”

(Sumber: Kompastv. https://www.youtube.com/watch?v=BFbMn-Mqjd0)

  1. Keterangan Pelaku Tabrak Lari Pengendara Motor

Dalam keterangan pelaku, dikutip dari suara.com, Kopral Dua A, ia memberikan saran kepada Kolonel Infanteri P untuk membawa korban kerumah sakit terdekat, namun Kolonel Infanteri P menolak.

Setelah terjadinya argumentasi antara Kopral Dua A dan Kolonel Infanteri P, namun kemudi mobil di ambil alih oleh Kolonel Infanteri P, dan memberikan perintah kepada rekannya untuk melakukan pembuangan korban yang di tabrak kedalam Sungai Serayu dari atas Jembatan. (Sumber: Suara.com. 7-fakta-perwira-tni-tabrak-sejoli-di-nagreg-pelaku-tak-ngaku-jenderal-dudung-minta-maaf?page=3)

  1. Salah Satu Korban Masih Hidup Saat Dibuang Ke Sungai

Hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa tengah, salah satu korban masih hidup pada saat Pelaku membuang Korban ke Sungai Serayu dari atas Jembatan. Dimana, korban pada saat diperiksa secara detail oleh tim Kedokteran dan Kesehatan, ditemukan adanya air pada saluran pernapasan dan paru-paru.

Sehingga, salah satu korban atas nama Handi meninggal di akibatkan tenggelam. Melainkan bukan karena bekas luka di kepala, namun untuk korban atas nama Salsabila meninggal ditempat pada saat terjadinya tabrakan.

  1. Kolonel Infanteri P Tidak Mengaku dan Memerintahkan Rekannya Untuk Diam

Diberitakan melalui suara.com, bahwa salah satu pelaku, yakni Kolonel Infanteri P tidak mengakui perbuatannya yang telah menabrak pesepeda motor yang berboncengan sampai meninggal. Serta memberikan perintah kepada kedua rekannya yang berada di dalam mobil untuk tutup mulut dan tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ketiga pelaku Perwira TNI AD tersebut sengaja melakukan pembuangan korban yang di tabrak.

  1. Melanggar UU 22 Tahun 2009, Dipenjara Seumur Hidup dan Dipecat
Baca Juga:  Yakorma Kuala Lumpur Raih National Records dari The Malaysia Book of Records.

Dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya Pasal 310, dijelaskan yakni ancaman penjara maksimal 6 Tahun, dan Pasal 312 yakni ancaman penjara maksimal 3 Tahun.

Bukan hanya itu saja, dimana ketiga Pelaku Perwira TNI tersebut juga melanggar KUHP Pasal 181 yakni ancaman penjara 6 bulan, Pasal 338 ancaman penjara 15 Tahun, Pasal 359 ancaman penjara maksimal 5 tahun, dan terakhir Pasal 340 ancaman penjara seumur hidup.

Adanya melanggar berbagai macam pasal, Jenderal Andikan Perkasa selaku Panglima TNI juga memberikan intruksi kepada penyidik TNI, TNI AD dan Oditur Jenderal TNI, bahwa Ketiga Perwira TNI yang telah menjadi tersangka dipastikan dipecat dari dinas  Kemiliteran.

  1. Korban Hilang Selama 11 Hari

Korban pesepeda motor, yang berstatus pacaran hilang selama 11 hari, yakni dari terjadinya penabrakan yang dilakukan Tiga Perwira TNI yakni “8 Desember 2021, Ditemukan 18 Desember 2021.” (Sumber: Pikiranrakyat.com).

Selama lebih dari sepekan, pihak keluarga korban telah melakukan pencarian keberadaan Handi dan Salsabila di beberapa tempat, yakni Puskesmas dan Rumah Sakit, namun kedua korban tersebut tidak juga ditemukan.

Kedua korban akhirnya ditemukan pada 18 Desember 2021, di Sungai Serayu dengan keadaan sudah tidak bernyawa. Kedua jasad tersebut ditemukan secara terpisah, di daerah Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah.

  1. Harapan Keluarga Korban, Ketiga Pelaku Perwira TNI Diadili Semaksimal Mungkin

Keluarga Handi dan Salsabila telah menyerahkan segala proses hukum kepada pihak yang berwenang, atas kasus yang menimpa anaknya. Keluarga juga berharap bahwa ketiga Pelaku Perwira TNI untuk diberikaan sangsi yang maksimal, dan diberikan hukuman yang maksimal.

Meskipun begitu, Ayah Handi yakni Entes Hidayullah meminta bantuan kepada Presiden Jokowi untuk memberikan pengawalan kepada kasus yang telah menimpa anaknya.

  1. Permintaan Maaf KSAD Jenderal Dudung

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman menyempatkan diri berziarah ke makam kedua korban tabrak lari yang dilakukan ketiga pelaku Perwira TNI tersebut.

Dikesempatan tersebut, Jenderal Dudung mengucapkan permintaan maaf kepada kedua keluarga korban. Berkenaan berziarah, Jenderal Dudung mengunjungi langsung kediaman keluarga kedua korban tersebut, yakni Handi dan Salsabila di damping istrinya dan jajaran anggota TNI.