Caraka Khatulistiwa Gelar FGD Moderasi Beragama

  • Bagikan

Kalimantan Barat, beritaborneo.id – Cagar Suara Kawula Khatulistiwa (CARAKA) sukses gelar Focus Group Discution (FGD) bertema “Moderasi Beragama: Dalam Menjaga Keharmonisan Di Kalimantan Barat” , bertempat di Caffe & Resto Ishoku Wahteg Pontianak.

Dengan menghadirkan narasumber sesuai kapasitas nya, yakni KH. Abdul Syukur (Ketua FKUB Kota Pontianak), Syarif Amin Muhammad (Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat) dan Khosiruddin (Mahasiswa Doktor Ilmu Sosiologi Fisip Universitas Brawijaya Malang) serta dipandu oleh Muhammad Hotip sebagai Moderator.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan peserta yang diundang secara khusus dari berbagai organisasi kepemudaan, seperti GMKI Kalimantan Barat, PMII Pontianak Raya, PRIMARAYA, PMKRI Sungai Raya dan KOPRI Cabang Kota Pontianak.

Syarif Amin Muhammad, menyampaikan dalam kesempatannya, pemerintah daerah atau provinsi dalam rangka menjaga silaturahmi dan mengantisipasi paham-paham yang menyesatkan seperti radikalisme, selalu terus memberikan pengayoman kepada masyarakat seperti mengajak masyarakat untuk selalu saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di Kalbar, baik itu beda agama,etnis, ras, dll.

“Kita harus selalu menjalin silaturahmi dengan siapapun, pemerintah selalu membuka ruang dialog untuk masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi, baik itu terkait dengan pembangunan, isu-isu sosial, agama,dan lain sebagainya”, tuturnya. (20/9)

Dikesempatan yang sama, KH. Abdul Syukur menuturkan, bahwa beragama virus yang berbahaya yakni radikalisme yang disertai pemaksaan kehendak, tindak yang berujung pada bentuk-bentuk atau aksi kekerasan.

“Semua lapisan masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga kedamaian, keserasian dan kerukunan”, imbuhnya.

Khosiruddin menambahkan, terjadinya kasus kekerasan beberapa waktu lalu di Kalbar, dikarenakan adanya disintegrasi beragama.

Dimana, seseorang melakukan tindakan kekerasan karena adanya kepentingan terselubung dalam tindakan integrasi sosial.

Sehingga, dibutuhkan adanya tindakan atau sikap untuk memfilter isu-isu yang beredar.

“Seseorang harus bisa memfilter isu-isu yang beredar dan harus bisa mencari tahu kebenarannya dalam suatu isu yang ditangkap dari media maupun dari lingkungan”, jelas Khosiruddin.

Terakhir, Khosiruddin meminta masyarakat untuk tidak mudah menjustifikasi suatu isu ataupun masalah yang diketahui tanpa adanya tindakan komunikatif.

Karena, jika seseorang mudah menjustifikasi yang ada hanya akan memperkeruh masalah, bahkan bisa berujung pada kasus hukum negara, seperti yang terjadi di Sintang.

Tindakan komunikatif sangat diperlukan agar adanya suatu kesepakatan antar hubungan sosial yang baik pula,” tutupnya.

  • Bagikan
Ini terletak pada bagian bawah halaman, sebelum footer