Narasi  

Cinta itu adalah Ibadah

 

Beritaborneo.id – Pengertian Cinta memang hanya sekedar lima Huruf yaitu, CINTA tapi apa bisa di artikan?. Jawabannya bisa dirasakan tapi tidak bisa didefinisikan. Cinta, berbicara tentang rasa. Apakah cinta hanya sekedar bahasa?.

Mungkinkah setiap manusia menafsirkan kata cinta berbeda-beda. Menurut saya cinta, tidak bisa ditafsirkan dengan kata. Apabila cinta di tafsiran dengan kata bukan menghasilkan solusi tapi malah menimbulkan kelabu abu-abu.

Banyak mengatakan cinta sejati adalah cinta ketulusan hati. Itu mah, bulsit. Sejatinya Cinta, itulah ibadah yang mengalir berbentuk kasih dan sayang terhadap apa yang kita lakukan terhadap tuhan.

Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam
hatimu.” (Al-Hujurat: 7)

Kemudian, dalam surat Al-Baqarah 165 dan Al-Maidah: 54 yang artinya.
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54).

Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

Macam-macam cinta
di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya. menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-
Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114).

Menyatakan bahwa cinta ada empat macam:

Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas. Kedua, cinta syirik. berfirman: Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya.

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut
seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang
diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr:20)

Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban,
maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih,maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Baca Juga:  PC Fatayat NU, Banser dan Banom NU Berikan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Landak

Buah cinta
mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95) menyatakan: “Dasar tauhid dan Asy-Syaikh ‘ Abdurrahman As-Sa’di ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah.

Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna
tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al Qaulus Sadid, hal. 110).

Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.

Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan. Ketika seseorang seringsekali bercerita tentang kebenciannya pada sesuatu, apakah itu benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak cinta?.

Salah seorang tokoh besar, Fariduddin al Attar pernah bercerita, bahwa ada seorang tokoh (?) yang berkunjung ke tempat Robi’ah al adawiyah, ulama besar ahli mahabbah, si tamu tersebut selama berada di tempat robiah yang diceritakan adalah betapa jeleknya dunia itu, betapa buruknya dunia itu, betapa menipunya dunia itu, dan betapa ia bencinya
dunia itu.

Robi’ah tersenyum…
dan ketika si tamu itu berlalu, Sofyan At Tsauri, sahabat Robiah yang juga sedang berkunjung ke situ bertanya pada Robiah,”Benarkah orang itu benci kepada dunia?” Robiah tersenyum dan berkata,”Bagaimana mungkin dia membenci dunia? yang ada di pikiran dan perasaannya hanyalah terisi dengan dunia dan urusannya”.

Baca Juga:  Stop Kekerasan Perempuan, Bangsa Sebagai Taruhanya

Dzunnun al Mishri, satu waktu di datangi salah seorang muridnya,”ya Guru, kata muridnya, aku sudah beribadah kepada Tuhan selama 30 tahun yang menurutku aku juga sungguh-sungguh. Siang puasa, malah tahajud dan selain amalan wajib, yang sunnah-sunnah juga aku kerjakan. tapi bukannya aku tidak puas dengan keadaanku, tetapi mengapa kah tidak ada sedikitpun tanda-tanda yang datang dari Tuhan tentang apa yang telah aku
lakukan ini?”Dzunnun menjawab,”kalau begitu, nanti malam kamu makan yang banyak, dan jangan sholat isya” Si murid agak heran juga mendengar saran gurunya, tapi ia mengangguk dan pulang. Keesokan harinya, ia datang ke Dzunnun dan bercerita,

“Alhamdulillah guru, semalem saya mendapatkan tanda itu dari Allah swt, aku sudah menuruti saran guru untuk makan yang banyak, tetapi aku tidak tega untuk meninggalkan sholat wajib isya. Kemudian malam harinya, aku bermimpi di datangi oleh Rosulullah saw dan
beliau bersabda,”wahai fulan, tenangkan hatimu, Allah mendengar, melihat dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. Bersabarlah dan ikhlaslah.”

dalam mimpi itu saya mengangguk, kemudian Rosulullah saw bersabda lagi,”Dan sampaikan pada Dzunnun Al Mishri bahwa Allah berpesan agar ia jangan menyarankan muridnya untuk
tidak sholat isya” Mendengar itu Dzunnun tertawa sampai keluar

air matanya..
kemudian ia berkata,
“Jika kamu tidak bisa mendekatiNya melalui Kasih SayangNya, maka dekatilah ia melalui rasa
marahNya”

Ketika saja kemaren saya tertegun ketika membaca buku “Secret of Power Negotiating”, didalam buku itu, Roger Dawson menulis,”apakah lawan CINTA itu adalah BENCI ??” , Tidak !! katanya, Lawan CINTA itu adalah KETIDAKPEDULIAN…
Bagi seorang Pecinta, kebencian dari sang kekasih itu lebih berharga dari pada KETIDAKPEDULIAN dari yang dicintainya…

Syair singkat
“ya kekasih…dari pada engkau memalingkan wajahmu dariku, lebih baik, sakiti aku dan marahi aku dan bencilah aku…itu lebih baik..sebab kemarahanmu, dan kebencianmu, itu adalah salah satu bentuk kepedulianmu kepadaku”
hati seorang pecinta..

lebih memerlukan kepedulian dari yang dicintai..dari pada ketidak peduliannya..
baikpun kepedulian itu berwujud kasih sayang yang dicintainya… ataupun kepedulian itu berwujud amarah dan
bencinya…