Berita  

Doktrin yang mengganggu kerukunan Agama, GMNI Dairi Berharap Pemerintah lebih efektif dalam mencega

Dairi, Beritaborneo.id-  Pelaku serangan teroris ke Mabes Polri adalah seorang wanita Milenial. Pelaku berinisial ZA lahir di Jakarta 14 September 1995. Berusia 25 tahun saat tewas ditembak polisi karena melakukan serangan

GmnI (Gerakan MahasiswaNasional Indonesia) ,Kabupaten Dairi menilai kemunculan teroris di kalangan Milenial harus menjadi perhatian serius sekaligus pembelajaran bagi semua pihak.

Firman Lingga selaku Ketua GMNI Dairi Menyampaikan dan ia berharap pemerintah bisa melakukan pencegahan yang lebih efektif dan efisien terhadap penyebaran doktrin maupun ajaran atau pemahaman-pemahaman.

“Kami sangat prihatin dengan munculnya teroris dari anak muda dan Milenial. Sulit rasanya kami menerima bahwa ada anak-anak muda yang memiliki cara berpikir sempit dan mudah terpengaruh akan berdampak besar ke masa depan anak bangsa kedepannya.

Suryadi Sidabutar selaku sekretaris GMNI Dairi juga berharap penindakan terhadap penyebaran doktrin terorisme harus tegas karena sudah sampai kepada level mengkhawatirkan bahkan menakutkan bagi anak-anak muda.

“Menurut kami ini adalah peringatan keras bagi kita semua,” ujarnya.

Bagi pihak keamanan, serangan teroris hanya dalam beberapa hari yakni bom Makassar pada Minggu 28 Maret 2021 yang dilanjutkan serangan langsung di Mabes Polri merupakan pemberitahuan keras.

Suryadi meminta pihak kemanan lebih memperkuat koordinasi dan kolaborasi untuk bisa melindungi masyarakat.

“Milenial seharusnya mendapatkan edukasi yang lebih baik mengenai ajaran agama. Milenial ini beragam dan kami masuk dari bagian besar itu, tetapi kenapa si pelaku bisa berpikir seperti itu, sedangkan kami tidak. Sepertinya ada sesuatu yang hilang disini,” jelas Suryadi

Secara keseluruhan masyarakat menilai ajaran agama yang dibelokkan sehingga diserap oleh para Milenial harus jadi perhatian. Menurut dia, jika ada Milenial yang terdoktrin terorisme kemudian melakukan aksi terorisme, inilah yang akan menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga:  Pelatihan Jurnalistik Lapmi Bentuk Insan Pers Indonesia

“Jangan sampai aksi terorisme ini mengganggu kerukunan umat beragama dan kehidupan kita bermasyarakat. Jangan lihat agama pelaku, tapi lihatlah dari sisi kemanusiaan,” secara personal

 

 

***