Kontroversi Konser Hindia: Viral Video Penonton Ditutup Mata dan Tanda Baphomet

BeritaBorneo.id – Musisi yang dikenal sebagai Hindia atau Baskara Putra belakangan ini menjadi pusat perbincangan di dunia maya setelah konsernya menjadi viral. Video konser memperlihatkan penonton diminta menutup mata, dengan layar LED panggung menampilkan simbol segitiga mata satu. Lebih kontroversial lagi, instalasi patung di atas panggung disebut-sebut sebagai simbol Baphomet, memicu spekulasi dan asumsi netizen.

Beberapa warganet menduga bahwa Hindia mungkin terlibat dalam aliran satanisme atau satanis berdasarkan elemen-elemen ini. Komentar netizen bervariasi, mulai dari yang mendukung hingga yang skeptis terhadap interpretasi ini.

Sejumlah komentar menyuarakan ketidaksetujuan terhadap konsep “satanis” ini. “Emang boleh se satanic itu bas akwowkwkkw,” tulis seorang warganet sambil mengejek. Namun, ada juga yang lebih santai, dengan komentar seperti, “Ya emang itu satanic, tapi kita sebagai pendengar mah dengerin aja musiknya.”

Di sisi lain, ada pula yang membela Hindia dengan menganggap ini hanyalah bagian dari konsep dan aksi panggungnya.

“Heyy kalian yg bilang baphomet baphomet coba de kalo belum tahu ttg patung itu search penjelasan nya baphomet itu bukan patung penyembahan cb cari dlu,” tulis seorang netizen.

Menyikapi kontroversi ini, Hindia nampaknya merespons dengan sikap santai. Melalui akun Twitter pribadinya, dia menulis, “Puji Tuhan dianggap illuminati ???????????????????????? apakah ini tandanya aku sudah dianggap sukses ????????????????????????????????????????”

Tak hanya itu, Hindia juga berbagi video di TikTok dengan keterangan, “Naikin video gereja dulu buat bersihin nama.” Respons ini tampaknya mencerminkan sikapnya yang tidak terpengaruh oleh spekulasi negatif dari sebagian netizen.

Kontroversi konser Hindia menciptakan perdebatan di media sosial, membagi pendapat antara mereka yang mempertahankan kebebasan seni dan mereka yang menafsirkan tanda-tanda sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar pertunjukan. Mungkin, ini adalah bagian dari keunikan Hindia untuk terus menciptakan diskusi dan mempertahankan identitas seninya yang unik.