Mengurai Pertentangan Budaya dan Agama Dalam Ritual Mulang Hujat

Sekadau, Beritaborneo.id – Prosesi ritual Mulang Hajat yang dilaksanakan masyarakat Kabupaten Sekadau pada 18 Desember 2018 silam.

Budaya dan agama terkadang dianggap sebagai dua sisi yang bertentangan. Seperti ritual Mulang Hajat di Kabupaten Sekadau, kerap dituding tak sejalan dengan ajaran Islam. Padahal ritual ini bertujuan mulia dari sisi agama dan budaya.

Kabupaten Sekadau terletak sekira 263 kilometer dari Kota Pontianak. Kabupaten yang juga dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia ini, masih banyak memiliki budaya dan tradisi. Satu di antara tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sekadau adalah ritual Mulang Hajat.

Ritual Mulang Hajat merupakan penghormatan kepada leluhur. Dalam ritual Mulang Hajat, masyarakat memanjatkan doa bagi para leluhur.

Biasanya ritual dilakukan di tempat yang dipercayai sebagai tempat keramat oleh masyarakat Sekadau.  Satu di antara tempatnya adalah Goa Lawang Kuari.

Saking disakralkan dan memiliki sejarah panjang bagi masyarakat Sekadau, Goa Lawang Kuari tersebut menjadi julukan khas bagi Kabupaten Sekadau, yakni “Bumi Lawang Kuari”.

Goa Lawang Kuari terletak di Dusun Kelilit Desa Seberang Kapuas, Kecamatan Sekadau Hilir. Dari pusat ibukota Kabupaten Sekadau, harus menempuh perjalanan darat sekira 15 menit untuk sampai di Dusun Sungai Putat, Desa Sungai Ringin. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan transportasi air berupa speed boat menuju Goa Lawang Kuari.

Posisi goa berada tepat di pinggir Sungai Kapuas. Di kawasan tersebut ada tiga goa yang berjejer. Goa pertama paling kanan (Hilir) milik suku Dayak, bagian tengah milik suku Senganan (Melayu), dan bagian kiri (Hulu) milik suku Tionghoa.

Goa Lawang Kuari merupakan cagar budaya. Senen adalah juru kunci cagar budaya tersebut. Dia menceritakan sekilas sejarah Goa Lawang Kuari. “Sebetulnya Goa Lawang Kuari merupakan tempat yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat Kabupaten Sekadau. Hal itu tidak terlepas dari sejarah Pangeran Agoeng anak pertama dari Raja Engkong, yang menduduki kerajaan Sekadau di tahun 1170 – an,” tuturnya, Rabu (6/4/2022).

Di tengah suasana gerimis dan dingin, Senen bercerita tentang ritual Mulang Hajat di Goa Lawang Kuari.  “Mulang Hajat dilakukan oleh masyarakat Sekadau, disebabkan ada ikatan janji yang harus dibayar, ketika salah satu kelompok masyarakat pernah mengirimkan harapan dan doa di Goa Lawang Kuari tersebut,” katanya.

Di seberang Goa Lawang Kuari, terdapat kediaman nenek Ayu, yang biasa melakukan ritual Mulang Hajat. Dia menuturkan beberapa penjelasan tentang ritual itu.

“Ritual Mulang Hajat merupakan sebuah tradisi yang sudah ada dari nenek moyang terdahulu. Dilakukannya ritual ini, dengan tujuan sebagai bentuk rasa hormat kepada para leluhur. Juga memohon keberkahan serta rezeki yang melimpah,” tuturnya.

Perempuan berusia 90 tahunan tersebut juga menyatakan, hingga kini ritual Mulang Hajat masih diselenggarakan masyarakat Kabupaten Sekadau pada momen tertentu. Nenek Ayu menambahkan, sebenarnya ritual Mulang Hajat tidak hanya bisa dilakukan secara komunal, akan tetapi bisa dilakukan secara individual.

Baca Juga:  Fokmas Berharap Pemerintah Bisa Optimalkan Pengawasan Bantuan Banjir

Menurut Nenek Ayu, biasanya masyarakat ramai-ramai berkumpul menggelar ritual Mulang Hajat di Goa Lawang Kuari. Mereka menyembelih hewan atau membawa makanan dari rumah yang akan dikonsumsi bersama-sama. Kemudian sebagian makanan tersebut diletakkan di sudut-sudut tertentu di goa.

Biasanya ritual diiringi dengan membaca doa-doa tertentu seperti doa selamat, doa arwah, doa tahlil, dan doa lainnya. Biasanya diadakan prosesi tambahan, dengan harapan agar masyarakat selalu diberikan keselamatan dan perlindungan dari Sang Maha Pencipta.

“Ritual itu sampai hari ini masih biasa dilakukan, terutama di Goa Lawang Kuari. Beberapa orang mengatakan ritual itu syirik, dari sudut pandang meraka yang tidak tahu apa maksudnya ritual itu dilakukan,” tambah nenek Ayu.

Dia berharap kaum muda bisa mempertahankan budaya dan tradisi Mulang Hajat. Dia sangat menyayangkan apabila tradisi Mulang Hajat hilang di Kabupaten Sekadau.

Apakah generasai muda tidak tertarik untuk melestarikan tradisi Mulang Hajat ? Dimas, 23 tahun, merupakan peziarah sekaligus peminat budaya Kabupaten Sekadau, menganggap bahwa ritual Mulang Hajat merupakan tradisi yang sangat luar biasa. Dia melihat Mulang Hajat mengajarkan banyak nilai kehidupan, terutama bagi para masyarakat yang sangat dekat sekali dengan budaya Sekadau.

“Tradisi yang ada sebelum Indonesia lahir,  dan masih bisa saya praktikkan di masa sekarang, memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya masyarakat Indonesia, terkhusus sebagai warga Sekadau,” ujarnya.

Dimas menilai ritual Mulang Hajat memiliki daya tarik luar biasa bagi kalangan millennial dan generasi Z . Di sisi lain, Dimas menduga banyak anak muda yang tidak tahu tentang tradisi Mulang Hajat. Kondisi tersebut menurutnya disebabkan minim informasi tentang Mulang Hajat. Selain itu orang muda jarang melihat langsung ritual Mulang Hajat yang mulai jarang dipraktikkan secara massal di Sekadau.

Meluruskan Anggapan Keliru

Penjelasan tentang maksud dan tujuan ritual Mulang Hajat juga disampaikan oleh Dewan Pemangku Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sekadau, Haji Salim.

“Sedikit saya luruskan bahwa Ritual Mulang Hajat atau berhajat, bukan berarti kita meminta atau berterima kasih kepada tempat tersebut. Tetapi melalui tempat yang telah dianggap ber-qaromah itu, dengan harapan segala doa dan keinginan yang diminta, bisa langsung tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa,” paparnya.

Pemaknaan yang sempit tentang ritual Mulang Hajat, berpendapat seakan-akan bertentangan dengan agama Islam. Hal ini berupaya diluruskan oleh Ustaz KH. Mudhlar, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sekadau.

“Ritual Mulang Hajat ini kan kalau kita lihat bukan syirik, sebab ada nilai-nilai Islam di situ,” ujar dia saat ditemui di kediamannya, Yayasan Pondok Pesantren Al-Rahmah, Pal 7, Desa Mungguk, Sekadau Hilir, Kamis (7/4/2022).

Baca Juga:  Gelar Kunker, Kapolres Sekadau Ajak Anggota Kerja Menyesuaikan Dengan karakteristik daerah

Mengenai Goa Lawang Kuari yang menjadi tempat prosesi Ritual Mulang Hajat, dia tidak mempermasalahkannya. Sebab menurutnya itu adalah upaya masyarakat untuk orang menjaga nilai-nilai kebudayaan di tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. “Itu adalah bentuk rasa menghormati juga para leluhur, yang telah berupaya untuk menjaga warisan-warisan budaya yang tidak terlepas dari sejarah,” tambahnya.

Pentingnya Merawat Budaya

Budaya lokal bisa terancam punah lantaran dipertentangkan seolah-oleh tak sesuai dengan ajaran agama. Agar hal tersebut tidak terjadi, masyarakat perlu memperdalam makna dan karakteristik budaya.

“Budaya merupakan keseluruhan sikap dan pola perilaku serta pengetahuan, yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan, dan dimiliki oleh suatu anggota masyarakat tertentu,” kata Agus Yuliono, dosen Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura.

Menurut dia, budaya dan agama sama-sama memiliki nilai yang sangat positif, dan selalu ada potensi untuk bisa saling merangkul. Bahkan dalam budaya bisa menyatukan dan mengharmoniskan agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Penyebab terjadinya keretakan budaya, didasari hilangnya ruang-ruang ekpresi budaya yang bisa menciptakan keberagaman, hilangnya narasi-narasi kebersamaan, serta kurangnya penguatan pendidikan multikultur. Sebenarnya melalui ruang-ruang tersebut, budaya lokal itu bisa dijaga dengan baik oleh generasi yang ada,” jelas Agus.

Pernyataan Agus sejalan dengan Ustaz KH. Mudhlar. “Ritual (Mulang Hajat) tersebut termasuk merupakan warisan budaya. Artinya orang-orang yang menghargai budaya itu termasuk bagus, selama itu tidak syirik, itu sangat bagus sekali,” katanya.

Sementara itu Haji Salim menggaris bawahi tentang pentingnya melestarikan tradisi Mulang Hajat. Menurut Haji Salim, upaya untuk melindungi warisan budaya telah dituangkan dalam payung hukum berupa Undang-undang nomor 5 tahun 2017, Tentang Pemajuan Kebudayaan. Sedangkan di tingkat daerah termaktub dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 2014, tentang Pelestarian Seni dan Budaya di Kabupaten Sekadau.

“Kemarin di Pontianak kita juga sudah sepakat, bahwa yang menjaga dan mengatur secara administratif terkait kebudayaan ini terdapat dalam Undang-undang nomor 5 tahun 2017. Maka dari itu komitmen kita bersama, untuk menjaga segala hal yang berkaitan dengan segala hal tentang budaya,” tegas Haji Salim.

Perbincangan hangat di tengah dinginnya angin malam, ditutup dengan Haji Salim kepada anak-anak muda di Kabupaten Sekadau, agar bisa memperkenalkan segala tradisi daerah sampai ke tingkat nasional bahkan internasional. (*)

Penulis: Rahmat Hidayah

Liputan ini menjadi bagian dari program Pelatihan dan Hibah Story Grant: Anak Muda Ciptakan Ruang Aman Keberagaman di Media yang dilaksanakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK). Terlaksana atas dukungan rakyat Amerika Serikat melalui USAID. Isinya adalah tanggung jawab SEJUK dan tidak mencerminkan pandangan Internews, USAID atau Pemerintah Amerika Serikat.