Menyelamatkan Bumi dengan Berkreatifitas

menyelamatkan-bumi-dengan-berkreatifitas
Magdalena lidia, adalah generasi penerus penyelamat lingkungan dari Mungguk Pasir, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau. Ia sedang membuat karya dari sampah non organik.

Oleh: Lisnawati

Bumi, dalam istilah Romawi Kuno, disebut sebagai terra mater yang berarti mother earth atau Ibu bumi. Bumi adalah perwujudan “ibu pertiwi”, simbolisasi ini menempatkan kedudukan bumi sebagai kerahiman yang penuh kasih. Ia menjadi pelindung isinya termasuk manusia di dalamnya. Namun sekarang, bumi sedang berada dalam tingkat keterancaman yang tidak ada kiranya. Akar masalahnya adalah gaya hidup yang tidak berorientasi peduli terhadap lingkungan. Perilaku membuang sampah sembarangan dan penggunaan sampah plastik adalah salah satu bentuk ketidak pedulian terhadap ibu bumi.

Magdalena lidia, atau yang lebih akrab di sapa Lena adalah sosok anak yang terampil mengolah bahan bekas menjadi barang yang berdaya guna. Perempuan kelahiran tahun 2012 ini tumbuh besar di Dusun Mungguk Pasir yang terletak di Desa Teraju, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau. Aktivitas yang dilakukan oleh Lena adalah salah satu langkah nyata untuk memperingati Hari Bumi, yang dirayakan setiap 22 April secara Internasional untuk menunjukan dukungan bagi lingkungan hidup.

Lena sedang membuat sebuah karya dari sampah non organik. Ia juga berbekal pengetahuan dari bangku sekolah terkait pentingnya menjaga lingkungan yang ada di sekitarnya. Lena menyadari bahwa masih kurangnya kesadaran dari masyarakat di lingkungan sekitarnya terhadap sampah.

Sembari membuat bunga plastik, ia dan teman-temannya berkeluh kesah tentang kondisi sungai yang masih banyak di temui sampah. Mulai dari sampah plastik bekas deterjen yang merupakan bagian dari aktivitas warga di sungai yaitu mencuci pakaian, hingga bekas popok bayi yang tersangkut di ranting-ranting pohon sungai mereka.

Memiliki kemampuan lebih dalam mengelola barang-barang bekas tersebut, Lena tak enggan untuk berbagi ilmu bersama teman-temannya. Keterampilan yang ia miliki berawal dari kebiasannya memperhatikan sang ibu yang pandai mengolah bahan bekas dari botol dan plastik menjadi bunga nan elok di pandang mata.

Baca Juga:  Beduk Raksasa di Pasang di Depan Masjid Raya Singkawang

Kawat yang masih bergulung itu di potongnya menjadi beberapa bagian yang kelak digunakan sebagai tangkai dari bunga. Plastik bekas yang berwarna-warni, ia ukir sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil yang estetik Botol bekas juga di potong rapi yang nantinya akan digunakan sebagai wadah untuk menyimpan bunga. Perpaduan antara kawat, botol dan plastik bekas akan dibuat menjadi beberapa tangkai bunga yang indah.

Pemanfaatan barang bekas dari plastik adalah adalah salah satu langkah yang baik untuk meminimalisir persoalan pengelolaan sampah yang menjadi masalah pelik bagi Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Lena adalah sebuah kesadaran yang dimulai dari diri sendiri untuk merawat bumi. Dengan menjaga lingkungan salah satunya dengan cara mengolah sampah yang sulit terurai menjadi suatu karya yang masih bisa di manfaatkan.

Persoalan sampah dapat di atasi dengan mengubah perilaku gaya hidup seseorang dari sejak kecil. Lena adalah contoh bagi anak-anak lainnya untuk bisa menjadi penggerak kepada masing-masing keluarga mereka maupun ke lingkungan masyarakat luas agar peduli terhadap sampah dan pengelolaannya. Masalah lingkungan mesti digaungkan bersama agar manusia memiliki kepedulian terhadap ibu bumi.