Merasa Terancam, Nelayan Selakau Pinta Kapal Cantrang Minggat

Merasa Terancam, Nelayan Selakau Pinta Kapal Cantrang Minggat/Ist

SAMBAS, BERITABORNEO.ID – Sejumlah nelayan Selakau berhenti melaut lantaran pembagian harga solar yang tidak merata antara nelayan lokal dan kapal cantrang. Kapal cantrang adalah kapal besar dari luar pulau Kalimantan yang diduga berasal dari Pekalongan, di mana kapal ini merebut pasaran ikan milik nelayan lokal.

Kapal cantrang masuk ke wilayah Selakau pada tahun 2020, di mana sebelumnya pernah beroperasi di daerah Pemangkat dan Singkawang namun berhasil ditolak nelayan karena merebut pasar nelayan lokal. Lalu mereka berpindah ke Selakau dan menjadi pemasok ikan terbesar di pasar ikan Selakau, mereka juga dibantu agen penjual ikan.

“Sebelum masuk kapal cantrang, nasib kami aman-aman saja. Begitu mereka masuk sekitar tahun 2020, mereka memiliki pengaruh yang kuat apalagi saat masuk Sya’ban di tahun 2022 ini,” ujar R, salah satu nelayan Selakau.

Namun memasuki tahun 2022, kapal cantrang kembali merebut popularitas pasar milik nelayan di Selakau lantaran ikan milik kapal cantrang lebih besar.

“Selama kapal cantrang masuk, harga ikan yang ditangkap nelayan lokal merosot sekali. Setelah masuknya kapal luar, kami menjadi terancam. Karena hasil tangkapan ikan dari kapal cantrang jelas lebih besar dan bagus mereka sedangkan kami kecil, karena jangkauan tangkapan ikan mereka kan lebih jauh. Kalau biasanya kapal luar yang masuk dari Tanjung Pinang misalnya memang ada pengaruh di kita karena jenis ikannya seperti tongkol, tenggiri tapi itu tidak terlalu bermasalah di kami. Kami minta penyamarataan masalah ini kepada agen penampung ikan. Cuman apalah kami nelayan kecil susah untuk bersuara,” ujar A, salah satu nelayan.

Nelayan pernah meminta adanya bukti surat perizinan masuk kapal cantrang ke wilayah mereka kepada Dinas Perikanan juga ke Komandan Rayon Militer (Koramil) Selakau, namun merea hanya dilempar kesana-kemari.

Baca Juga:  Sijago Merah lalap SMP Negeri 24 Pontianak

“Sedikit banyaknya, setidaknya kalau ada sepotong kertas izin itu perlulah untuk dilihatkan kepada kami. Kami sudah ngomong di Koramil Selakau masalah kapal cantrang ini tentang masalah surat perizinan masuk mereka menjelaskan ini-itu, Dinas Perikanan bilang tidak tahu dan mengatakan ini ketentuan pusat. Jadi modelnya seperti saling lempar,” tukas salah satu nelayan.

Sebelumnya, para nelayan sempat menolerir aktivitas kapal cantrang di wilayah mereka, namun semakin lama malah kapal cantrang mengancam perekonomian nelayan kecil.

“Kami minta kalau bisa kapal cantrang ini dilarang masuk ke daerah kami. Karena kalau mereka masih di sini, tetap harga ikannya berbeda jauh. Sempat ada beberapa kawan-kawan nelayan bersosialisasi kepada nelayan kapal cantrang agar bisa sama-sama mencari rezeki tanpa membunuh rezeki yang lainnya terutama masalah perekonomian, cuman setelah beberapa waktu berlalu sekitar setahun, malah kami menjadi terancam,” tegas A.

Selain itu, kapal cantrang mengambil pasokan solar yang lebih banyak daripada kapal nelayan lokal. Dengan penjualan kapal cantrang yang lebih banyak dari nelayan lokal dan harga solar yang disamaratakan, kapal cantrang cenderung lebih memiliki akses yang mudah untuk melaut daripada nelayan lokal. Sedangkan nelayan lokal, harga solar bahkan lebih besar daripada hasil tangkapan ikan.

Citizen Reporter: Ayu