kartini

Sholat Itu Kebutuhan Bukan Kemauan

  • Bagikan
Sumber: Pikiran Rakyat

BeritaBorneo.id – Hidup di zaman yang penuh dengan lika-liku dan telah banyak terpengaruh oleh modernisasi tentulah ada beberapa orang yang menganggap sholat hanya kemauan semata. Sebagai salah satu contohnya adalah masyarakat sekitar kita. Seperti kita tahu, bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbanyak bahkan menduduki peringkat nomor satu di dunia, namun tak sedikit dari masyarakat Indonesia itu beragama tetapi tidak menjalankan sebagaimana syari’at. Ibadah Sholat contohnya, banyak dari masyarakat di sekitar kita yang masih saja meninggalkan sholat.

Tidak sedikit diantaranya menganggap sholat ketika ada maunya, atau sholat ketika hari raya saja. Hal seperti ini justru keliru dalam pandangan syari’at. Padahal sholat adalah amalan paling utama yang akan ditanya di akhirat kelak dan yang paling pertama yang akan di Hisab (perhitungan). Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu tausiyah beliau di kanal Youtube Taman Firdaus yang membahas tentang pentingnya sholat dan azab bila meninggalkan sholat wajib, beliau mengatakan bahwa “orang yang meremehkan sholat saja disebut  munafik dan ditempatkan di neraka Jahannam apalagi orang yang sengaja meninggalkan Sholat”, ini berarti bahwa posisi sholat bagi kaum muslimin sangatlah penting, dan peringatan itu pun sangat serius disampaikan kepada kaum muslimin bahwa meninggalkan sholat adalah dosa yang besar dan ancaman Allah atas siksa-Nya sangatlah pedih.

Perlu diketahui, bagi setiap muslim dan muslimah bahwasanya, sholat atas kaum Muslimin adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan. Dimanapun seseorang itu berada ketika tiba waktu sholat maka wajib baginya melaksanakan sholat karena sholat adalah ibadah yang paling utama. Sholat juga dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan munkar, seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45 yang artinya, “Bacalah kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakan lah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”. Bahkan ada ancaman yang besar bagi seseorang yang sengaja meninggalkan sholat.

Salah seorang guru saya di pesantren Al-Mukhlishin Mempawah, Al-Ustadz Ahmad Muzayyin saat mengisi salah satu kajian rutin yang dilaksanakan ba’da Isya pernah mengatakan, “Jadikan Sholat sebagai kebutuhan bukan kewajiban”, karena ketika kita menjadikan sholat sebagai kebutuhan maka diri kita akan selalu merasa membutuhkan sholat. Namun, ketika kita menganggap sholat sebagai kewajiban sewaktu-waktu mungkin saja kita akan melanggar kewajiban tersebut karena dirasa terlalu memberatkan. Bahkan hal ini juga sering disampaikan oleh Ustadz Ahmad Muzayyin bukan hanya di kelas pondok melainkan juga di kelas formal, khususnya pelajaran Fiqih.

Namun, yang semakin membuat prihatin adalah masih ada beberapa orang ketika di ingatkan untuk melaksanakan sholat, banyak sekali alasan-alasan yang diutarakan agar terhindar dari kewajiban tersebut. Ada yang beralasan masih belum paham tata cara sholat, ada yang beralasan takut sholat tidak diterima. Maka dalam hal ini muncullah ilmu Fiqih yang membahas tentang sholat sebagai jawabannya. Bagaimana hukum sholat, bagaimana mengetahui tata cara sholat yang baik, bagaimana mengetahui dan menjalankan rukun sholat agar sholat bisa diterima. Bahkan pembahasan tentang sholat.

Ilmu Fiqih muncul agar manusia dapat mempelajarinya dan menerapkannya di kehidupan. Mengenai tata cara sholat, ilmu fiqih sudah membahasnya secara detail mulai dari sejak Takbiratul Ihram hingga salam. Bagaimana tata cara dan posisi duduk tahiyat yang benar. Sudah banyak pembahasan tentang masalah sholat, diantaranya masalah sholat fardhu, jika tertinggal salah satu sholat yang fardhu atas sebab uzur maka diharuskan segera untuk mengqodho sholat jika lupa. Dan jika dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk sholat sampai waktu sholat habis maka diharuskan baginya untuk menqodho.

Islam tidak pernah memberatkan pemeluknya susah dalam beribadah, begitu juga dalam sholat. Apabila ada seorang muslim yang sedang dalam keadaan sakit parah, maka di perbolehkan untuk sholat duduk ataupun sholat dengan cara terbaring, dengan uzur sudah tidak dapat berdiri ataupun duduk. Namun, hanya yang berhalangan atau uzur lah yang di ijinkan untuk sholat demikian. Dalam hal ini dapat dilihat kepada para lansia yang sudah sangat susah untuk melaksanakan sholat berdiri. Ataupun orang yang dalam keadaan sakit parah seperti keadaan kaki patah atau yang lain sebagainya.

Islam juga telah mengatur Sholat Jum’at, dimana sholat yang satu ini diwajibkan atas kaum muslim laki-laki. Ancaman bagi seorang muslim yang meningglkan sholat ini sangat besar bagi yang tidak melaksanakannya lebih dari 3 kali jum’at, kecuali bagi yang uzur lebih dari 3 kali jum’at, sholat jum’at juga tidak diwajibkan bagi kaum muslim wanita.

Selain Sholat Jum’at ada juga sholat sunnah utama yang sangat di anjurkan oleh Rasulullah adalah Sholat Tahajjud dan Dhuha. Sholat Tahajud adalah sholat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah pada sepertiga malam, dan pada setiap sepertiga malamnya ada pahala yang sangat besar dari Allah kepada hamba yang ikhlas melaksanakannya.

Termasuk bagi seorang muslim, apabila rutin melaksanakan sholat Tahajud maka akan mendapatkan pahala dan keutamaan yang besar disisi Allah, saat hamba-hamba yang lain masih pulas dalam tidurnya, maka disitulah ada hamba yang Allah angkat derajatnya karena rutin sholat tahajud. Begitupun dengan Sholat Sunnah Dhuha. Sholat Dhuha adalah sholat yang dianjurkan oleh Rasulullah sejak matahari mulai setinggi tombak.

Orang yang melaksanakan sholat Dhuha memiliki keistimewaan dan keutamaan, ketika banyak orang yang telah memilih beraktivitas masih ada hamba yang menyempatkan diri untuk sholat sunnah Dhuha. Itulah salah satu dari ribuan nikmat yang Allah berikan atas kaum muslimin. Dan hukum syari’at tidak pernah memberatkan dan juga tidak memaksa, asalkan kewajiban yang utama yakni sholat selalu di nomor satukan dalam kehidupan.

Adapun rukun dalam Sholat juga sudah banyak di bahas dalam ilmu fiqih, hanya ada dua kemungkinan bagi seseorang dalam mempelajari ilmu, yakni apakah ia yang kurang mendapatkan ilmu ataukah ia yang memang malas mempelajari ilmu. Hal yang paling dasar dalam sholat masih banyak di antara masyarakat kita yang masih belum paham dan mengetahui nya, lalu menjadikan alasan agar tidak sholat. Namun setidaknya laksanakanlah sholat yang wajib atau sholat fardhu karena itulah sholat yang di wajibkan oleh Allah dan dilarang untuk ditinggalkan oleh kaum muslimin.

Sesibuk apapun kita dalam kegiatan jangan pernah tinggalkan sholat. Termasuk bagi orang tua dalam mendidik anak, ajarilah anak-anak dalam mempelajari ilmu agama agar mereka tidak terjerumus kedalam kelalaian semata, karena zaman yang di kuasai oleh teknologi sekarang, Gadget hampir menguasai manusia, dan ketika ditanya tentang islam mereka bahkan kebingungan menjawab naudzubillah. Ilmu Fiqih adalah ilmu paling penting bagi kehidupan karena dengan nya dapat menjawab disetiap kegiatan manusia, hukum-hukum di dalamnya  di atur agar manusia tidak tersesaat.

Sebagaimana sholat banyak sekali hikmah yang bisa kita dapat di dalamnya, namun terkadang banyak juga yang telah menyepelekan hukum tersebut. Sholat adalah amalan yang paling utama dihisab di akhirat kelak, yang paling utama ditanyakan sebelum amalan yang lain. Dalam lingkungan pesantren, ada ta’zir atau hukuman yang berat bagi yang sengaja ataupun tidak sengaja meninggalkan sholat, bukan hanya sebatas memberikan hukuman tetapi juga memberikan jera agar tidak lagi meninggalkan sholat. Setiap pulang ke pesantren hampir semua santri di tanya apakah sholat lima waktu lacar ataukah tidak dikerjakan sama sekali? Dan saat itu semua santri diharuskan untuk jujur, maka yang tidak melaksanakan sholat satu kali biasanya dirotan sepuluh kali. Seperti itulah islam akan terus menjaga agar kaum muslimin tidak meninggalkan syari’at-syari’at dalam islam. Apalagi di dalam lingkungan Pesantren.

Ada beberapa hal lain yang juga menjadikan seseorang beralasan dalam melaksanakan sholat, ada yang beralasan tertinggal beberapa rakaat dan menurutnya karena sudah tertinggal ya sudah tidak sholat. Jawabannya ada di ilmu fiqih, dalam hal ini seseorang dapat menjadi masbuk. Jika seseorang faham dengan makmum masbuk maka tidak akan bingung lagi, kenapa ada orang yang baru datang saat sudah mendekati rakaat terakhir, atau kenapa ada orang yang tiba-tiba menepuk bahu. Dalam hal ini masbuk hanya diperuntukan untuk sholat fardhu saja dan bukan untuk sholat sunnah lainya seperti Sholat sunnah qobliyah atau ba’diyah. Di pesantren dapat di jumpai para mudabbiroh atau pengurus yang terlambat datang sholat dikarenakan ada urusan, nah agar tidak terlepas dengan rakaat imam maka mereka harus menjadi makmum masbuk.

Namun hal seperti ini alangkah baiknya jangan dilakukan secara berturut-turut, jika kita dapat melaksanakan sholat tepat pada waktunya maka laksanakanlah. Begitulah Islam mengatur kaum muslimin, tidak sekalipun memberatkan dan tidak sekalipun menyusahkan hanya saja terkadang kitalah yang malas dalam melaksanakan ibadah tersebut. Wallahu’alam.

 

Penulis: Halimah Assa’diyah

Mahasiswi Manajemen Dakwah FUAD IAIN Pontianak

 

  • Bagikan
Ini terletak pada bagian bawah halaman, sebelum footer