Prestasi Indonesia Peringkat Ke-2 Pernikahan Usia Dini dan Ke-8 Di Dunia

Prestasi Indonesia Peringkat Ke-2 Pernikahan Usia Dini dan Ke-8 Di Dunia. (Sumber: Kompas.com)

Beritaborneo.id – Pernikahan, sudah tentu harus dilakukan. Bukan hanya di anjurkan oleh agama, negara juga akan demikian. Disebut suatu negara karena di isi oleh manusia, yang selanjutnya disebuat rakyat atau masyarakat.

Menikah adalah cara manusia untuk memiliki keturunan atau sebagai cara manusia menjaga keturunan manusia agar tidak punah. Kalau dijaman dulu manusia berhubungan intim dengan bebas, sembarangan, dan asal-asalan untuk mendapatkan dan menambah keturunan (selain kebutuhan biologis) tanpa adanya legalitas negara atau agama. Sekarang sudah berbeda, yang mana karena manusia semakin kesini memiliki pemikiran yang baik (pintar/cerdas dll) dan melakukan upaya pengelolaan manusia dengan baik pula, sehingga terbentuklah sebuah negara dan agama.

Pengelolaan yang dimaksud, yakni pengelolaan sumber daya manusia dengan melakukan dan membentuk sebuah peraturan-peraturan yang selanjutnya harus di taati sesuai prosedur yang telah dibuat oleh pengelola. Pengelola disini yakni pemerintah.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah yakni terbentuknya suatu peraturan. Peraturan dibuat karena agar kehidupan manusia di suatu negara hidup dengan keteraturan, bukan asal hidup.

Terbentuknya Indonesia karena adanya asas saling berupaya untuk membentuk suatau negara, kalau dulu disebut hindia belanda, kini menjadi Indonesia.

Indonesia, memiliki 270,20 juta jiwa penduduk (Sumber:bps.go.id. 2021). Selain itu, menjadi negara ke-4 penduduk terbanyak di dunia. Ada 5 negara dengan penduduk terbesar di dunia, yakni 1. China dengan jumlah penduduk 1.444.994.06. 2. India, yakni 1.393.827.579. 3. Amerika Serikat, yakni 332.981.983. 4. Indonesia 276.534.274 dan 5. Pakistan, yakni 225.251.657. (Kompas.com: 28 Juli 2021).

Hal ini bukan menjadi prestasi yang baik, dibalik peringkat ke-4 Indonesia sebagai negara populasi penduduk terbanyak di dunia seharusnya menjadi evaluasi bersama, baik pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

Jika sumber daya manusia dikelola dengan baik, bukan menjadi masalah, akan tetapi jika sebaliknya, perlu adanya upaya pengelolaan yang baik agar sumber daya manusia yang ada menjadi aset untuk memajukan suatu negara.

Melihat data penduduk yang begitu besar, hal ini juga dipengaruhi oleh percepatan tingkat pernikahan dini atau pernikahan anak.

Masyarakat juga harus sadar diri, sebagai masyarakat harus mentaati peraturan yang berlaku, maka dari itu, dibuat peraturan agar hidup dengan keteraturan. Ya, seendaknya menikah itu jangan asal-asalan gitu, pikir yang matang dan menikah sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia.

Kenapa demikian? Dibalik jumlah penduduk yang besar itu, kini Indonesia menjadi salah satu negara peringkat ke-2 kasus pernikahan usia dini se-Asean dan diperingkat ke-8 di dunia.

Ini memperhatinkan, dengan penduduk yang begitu banyak, malah memberikan prestasi yang buruk. Di Indonesia, usia menikah rata-rata 19 tahun. Dibeberapa negara di dunia, menentukan usia nikahnya lebih tua dari pada Indonesia.

Dilansir dari diadona.id, 1. Spanyol, rata-rata laki-laki dan perempuan menikah 27,7 Tahun. 2. Jepang yakni laki-laki 30,5 tahun dan perempuan 29,2 Tahun. 3. Australia  yakni laki-laki 30,6 Tahun dan perempuan 29,9 Tahun. 4. Finlandia yakni laki-laki 32,6 Tahun dan perempuan 30,7 Tahun. 5. Prancis yakni laki-laki 33,7 tahun dan perempuan 32.0 tahun. 6. Italia yakni laki-laki 35,3 Tahun dan perempuan 32,2 Tahun. 7. Bulgaria laki-laki 35,7 Tahun dan Perempuan 32,6 Tahun. 8. Amerika yakni Laki-laki 29 Tahun dan perempuan 27 tahun. 9. Singapura, yakni laki-laki 30 tahun dan perempuan 28 tahun.

Baca Juga:  Wakil Ketua Komisi V DP RI: Jantung Teori dan Praktik Demokrasi Adalah Partisipsi Warga Negara

Berdasarkan sumber usia menikah di beberapa negara di atas, Indonesia merupakan negara yang menentukan peraturan menikah paling dini. Ini juga berakibat percepatan pada angka penduduk. Mungkin ini dalam tataran medis, sehingga peraturan yang dibuat idel menikah adalah 19 tahun rata-rata. Dibandingkan beberapa negara di atas, usia menikah rata-rata di atas 23 tahun.

Padahal usia yang ditentukan dalam peraturan yang buat pemerintah sudah sangat dini dibandingkan usia menikah ideal di beberapa negara, tetapi tetap saja masyarakat Indonesia menikah dengan usia dibawah 19 tahun.

Belum lagi, dilansir Kompas.com, kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, “Ternyata populasi atau jumlah orang yang menikah per tahunnya itu sudah jauh di atas 2 juta dan mereka 80 persen melahirkan tahun pertama,” kata Hasto dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (25/8/2020).

Semakin cepat anak menikah, semakin cepat pula kenaikan angka penduduk. Ini dikarenakan tingkat kelahiran yang juga semakin cepat pula, apalagi di indonesai rata-rata satu Kepala Keluarga (KK) lebih dari empat kepala. Belum lagi, banyak orang menikah di Indonesia tanpa memiliki pekerjaan, serabutan, atau Pendidikan yang juga minim, tidak memiliki skill, dan lain sebagainya.

Penyebab Menikah Usia Dini

Hasil penelitian dokumen laporan Plan International bertajuk “Getting The Evidence: Asia Chila Marriage Initiative” yang dilakukan Lembaga penelitian di inggris, Coram International di Indonesia, banglades dan Pakistan menyimpulkan penyebab utama pernikahan anak yakni rendahnya akses Pendidikan, kesempatan di bidang ekonomi, kualitas layanan dan Pendidikan kesehatan reproduksi, terutama untuk anak perempuan.

  1. Ekonomi

Beban ekonomi keluarga, seringkali menjadi pendorong orang tua untuk cepat-cepat menikahkan anaknya. Dengan anggapan, bahwa anak saat menikah tidak lagi menjadi beban keluarga.

  1. Pendidikan

Rendahnya tingkat Pendidikan yang dimiliki, akan berdampak pada pola pikir seseorang, misalnya, seseorang akan dengan cepat dan mudah mengambil keputusan tanpa berpikir jangka Panjang, menyukai sesuatu yang instan, gampang emosional.

  1. Adat istiadat

Pandangan adat istiadat yakni sering terjadinya orang tua menjodohkan anaknya, dengan keluarga atau kerabat dekat.

  1. Married By Accident (Lingkungan)

Menikah karena insiden, pasti sudah sering kita lihat.  Ini dipengaruhi karena lingkungan atau pergaulan bebas. Belum cukup umur sudah berhubungan intim, sehingga berakibat pada pernikahan dini.

Seringkali bukan, kita tidak peka terhadap resiko dari tindakan yang kita lakukan. Apalagi, tindakan yang tergesa-gesa atau kesusu. Gimana tidak, setiap tindakan ada sebab dan akibat. Akibat dari tindakan menikah usia dini apa?

Akibat menikah usia dini

  1. Segi Fisik

Fisik, sangat sensitif dalam berumah tangga. Jika seseorang dinikahkan belum cukup umur, akan berpengaruh pada fisiknya. Misalnya, keterampilan untuk memperoleh penghasilan untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Jika tidak kuat, yang terjadi akan mengalami kegagalan dalam berumah tangga.

  1. mental

Tidak jarang kita selalu dituntut dalam rumah tunggu bertanggung jawab, baik secara moral maupun moril. Jika mentalnya tidak kuat, akan terjadinya goncangan mental atau kejiwaan. Dikarenakan mentalnya masih labil dan gamppang emosional negative.

  1. kesehatan
Baca Juga:  Babinsa Sungai Ambawang Berharap Pilkades Berjalan dengan Rukun dan Damai

Kesehatan harus diperhitungkan dalam berumah tangga. Terutama kesehatan reproduksi. Jika kesehatan lemah, atau sering teganggu dan gampang sakit, ini akab berpengaruh pada kematian saat melahirkan, kecacatan pada anak, dan lain sebagainya.

  1. Kewasaan berpikir

Berpikir dewasa memang tidak terlalu urgensi dengan usia, tetapi perlu dipahami. Seseorang yang masih usia muda, secara medis pun juga sudah dijelaskan, misalnya usia anak 7-13 tahun akan sering bertanya karena otaknya akan banyak berkerja, usia remaja akan banyak mencari hiburan dan lain sebagainya. Apalagi anak yang menikah usia dini, akan sering mengalami tekanan keluarga, gampang emosi, berpikir pendek, dan juga berakhir pada perceraian dini.

  1. Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan instens dan sangat berpengaruh pada pola berpikir seseorang, baik Pendidikan formal maupun non formal.  Usia dibawah 20 an sangat rentan dengan berpikir negatif jika tidak memiliki Pendidikan yang baik. Pendidikan ini sebagai pengetahuan mereka untuk menjalani kehidupan,terutama berumah tangga. Ini juga mempengaruhi pada cara seseorang berkerja dan memnuhi kebutuhan hidupnya.

  1. domestik

Domestik adalah kesetaraan dalam berumah tangga, kesetaraan gender. Misalnya, dalam rumah tangga harus saling mengisi ruang kosong untuk berpendapat, berhubungan intim, mengambil keputusan dan lain sebagainya. Jika kesetaraan gender ini timpang, maka akan berakhir dengan saling menjatuhkan tanpa melihat sisi kemanusiaan. Yang sering terjadi, laki-laki akan di anggap sebagai seseorang yang bisa memutuskan segalam macam kebijakan dalam rumah tangga. Tanpa meminta pendapat perempuan.

Jenjang Karir

Berkarir merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama kehidupan sendiri. Sering kita temui, teman, tetangga, dan keluarga jika sudah usia 20 an, disuruh cepat nikah. Padahal menikah di usia segitu sangat rentan untuk bercerai, kdrt, dan lain sebagainya.

Perlu kita pahami, bahwa usia berakarir yang pas yakni 23-26 tahun. Lantas gimana kalau usia dibawah 23 tahun tapi sudah memiliki pekerjaan, usaha atau penghasilan sendiri. Itu berarti dia cepat menangkap peluang, dan biasanya karena lingkungan yang baik pula.

Apakah kalian pernah, merasakan usia 19 – 39 tahun mengalami kehidupan yang banyak mencari seseuatu, terutama jati diri, pekerjaan kedepannya, pengen jalan-jalan, banyak menghayal, memiliki banyak uang dan lain sebagainya, hal itu disebut Quarter life crisis yang aling sering terjadi di usia 19-23 tahun.

Menurut Endang R. Surjaningrum, M.AppPsych, Psikolog dan dosen di Unair, Quarter life crisis adalah suatu perubahan fase perkembangan akan mengakibatkan ketegangan bagi seseorang. Disetiap proses perkembangan tersebut akan mendapatkan banyak tuntutan dan harapan dari lingkungan, misalnya kerja yang nyaman, gaji yang banyak dan lain sebagainya.

Lantas apa korelasinya dengan menikah usia dini? Seseorang sering mendapatkan jenjang karirnya di usia 23-26 an. Dimana, jenjang karir tersebut akan didapatkan dalam proses perkembangan berpikir yang matang pula. Proses perkembangan ini didukung lingkungan atau pergaulan kita

Seharusnya begitu pula dengan pernikahan. Menikah harus di dukung dengan karir atau pekerjaan yang sudah didapatkan dan didukung oleh pendidikan pula. Upaya untuk menjalankan kehidupan berumah tangga pun juga akan matang.