Selamat Hari Natal dan Tahun Baru

Stop Kekerasan Perempuan, Bangsa Sebagai Taruhanya

  • Bagikan

Narasi, Beritaborneo.id – Peran Perempuan sejatinya Tidak Hanya Membangun Diri dan Keluarga Tetapi Juga Membangun masyarakat dan Negara. Oleh karena itu, tak ada kata lain selain perempuan harus diberi peluang seluas-luasnya untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat, ekonomi, dan negara. Lantas terkadang perempuan selalu menjadi objek kekerasa?. Lalu, bagaimana perempuan mengembangkan potensi dirinya.

Perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Salah satu bukti bangkitnya perempuan Indonesia adalah ketika Kongres Perempuan pertama kali diselenggarakan pada tanggal 22 Desember 1928.

Kesempatan perempuan untuk menjajaki ranah publik sebenarnya semakin terbuka lebar akibat munculnya semangat untuk mendorong kesetaraan gender dari organisasi internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal tersebut ditegaskan dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination af All Forms of Discrimination against Women) atau CEDAW yang ditetapkan pada 18 Desember 1979.

Dikutip dari contan.co.id dalam acara virtual nobar dan webinar “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan”, Jumat (10/12/2021). Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiam Makarim menyampaikan, kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat.

Dari data yang dihimpun Mendikbud tersebut, sepanjang Januari hingga Juli 2021 telah terjadi sekitar 2.500 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk kasus kekerasan seksual. Apa Jaminannya bisa memberikan rasa aman terhadap perempuan Indonesia?.

 

Sadar Dalam menjaga Kehormatan Perempuan

Menjaga Kehormatan perempuan tugas yang harus sama-sama bergerak baik individu dan keterlibatan didalamnya. Maraknya, Kasus kekerasan Seksual tidak bisa kita pungkiri. Sebab itu, Teknologi informasi yang semakin canggih eksploitasi terhadap kekerasan seksual semakin meningkat.

Terkadang tubuh perempuan dan kemolekan tubuh dijadikan salah satu alat untuk memancing daya tarik. Keindahan atau sensualitas tubuh perempuan dijadikan alat untuk menjual produk yang diiklankan atau memperoleh keuntungan dari industri pornografi dalam media elektronik Seperti TV dan internet. Entah memang mengikuti gaya trend atau malah menghilangkan Budaya?

Sistem sosial seperti ini akan berjalan seiringan dengan struktur masyarakat yang tentu memiliki proses sosial yang kompleks di dalamnya. Proses sosial yang kompleks ini kemudian menyebabkan lahirnya ide-ide dan nilai-nilai dalam lingkungan masyarakat. Di mana, nilai-nilai budaya merupakan tingkat tertinggi dan abstrak yang dapat mempengaruhi tindakan manusia.

 

Analisis Sosiologis

Terjadinya kejahatan atau pembunuhan demi kehormatan, secara sosiologis bisa dikatakan sebagai bentuk dari penyimpangan sosial (Social Anomy), sebagaimana diungkapkan oleh Emile Durkheim dalam bukunya The Division of Labor in Society (1893) bahwa keadaan yang tidak deregulasi sebagai bentuk dari tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat dalam masyarakat. Keadaan deregulation atau normlessness inilah yang menimbulkan perilaku menyimpang.

Kemudian, menurut Robert K. Merton (1938), penyimpangan itu bisa terjadi ketika individu dalam masyarakat tidak lagi menggunakan sarana yang tersedia (berbeda) untuk mencapai sebuah tujuan. Sebab, menurut Merton, dalam setiap masyarakat itu terdapat tujuan-tujuan tertentu yang ditanamkan kepada seluruh warganya. Dan untuk mencapai tujuan tersebut terdapat sarana-sarana yang dapat dipergunakan. Tetapi dalam kenyataan tidak setiap orang dapat menggunakan sarana-sarana yang tersedia. Sehingga menyebabkan penggunaan cara yang tidak sah dalam mencapai tujuan.

Bentuk diskriminasi inilah sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Budaya seperti ini, menurut Freud dikatakan bahwa sistem patriarki adalah sebuah sistem di mana seluruh laki-laki dalam tindakan sehari-hari mereka dengan penuh semangat terus-menerus bekerja untuk mencipta dan melestarikan sistem patriarki. Apa yang terjadi di masyarakat sebagian negara di dunia, yaitu pemeliharaan norma bahwa perempuan itu menjadi ukuran kehormatan keluarga tentu ada peran serta laki-laki dalam pelestariannya. Sehingga proses menjalankan norma sampai saat ini terus bertahan.

 

Negara Selalu Ikut andil didalamnya

Menurut Nomor: B-60/Set/Rokum/MP.01/04/2020. Menteri Bintang mengungkapkan, berdasarkan data BPS pada 2019, sebanyak 131 juta jiwa atau hampir setengah dari populasi penduduk Indonesia adalah perempuan. Data ini menggambarkan bahwa perempuan merupakan penyumbang setengah dari kekuatan sumber daya manusia bangsa ini.

Lebih lanjut, tinggal bagaimana proses pemantauan terhadap perkembangan perempuan di Indonesia. Keselamatan bangsa ada di tangan perempuan. Maka disini Negara harus selalu ikut andil dan bersama-sama dengan masyarakat menegakkan kebenaran yang nyata.

Mudah-mudahan pada tahun 2022 pada saat ini, kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia bisa berkurang serta menjadikan suatu problem yang harus di selesaikan.

  • Bagikan
Ini terletak pada bagian bawah halaman, sebelum footer