Wiji Widodo Sang Penyair Yang Hilang 1998

Sumber: Tirto.id

Beritaborneo.id – Pernah mendengar nama Wiji Thukul yang hilang 1998. Tentu sedikit banyaknya, kalian pernah mendengar atau membaca di berita atau buku, tentang seorang penyair yang hilang 1998. Orang itu adalah Wiji Thukul.

Wiji Thukul, merupakan salah satu aktivis 1998. Bernama asli Widji Widodo. Merupakan seorang penyair sekaligus aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), dan berkebangsaan Indonesia.

Dijaman Orde Baru, Wiji Thukul ikut aksi melawan penindasan rezim pada waktu itu. Wiji Thukul bukanlah seorang mahasiswa, melainkan masyarakat sipil, pernah sekolah di SMP N-8 Solo, setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia dan mengambil jurusan Tari.

Tak bertahan lama, Wiji Thukul akhirnya berhenti sekolah karena faktor ekonomi yang pada saat itu mengalami kesulitan.

Dengan kehidupan yang sulit, Wiji Thukul sering menyelenggarakan aktivitas kegiatan teater dan melukis bersama anak-anak dikampungnya, yakni kampung Jagalan. Kampung Jagalan yakni tempat Wiji dan anak istrinya tinggal dan menjalani kehidupannya.

Mulai sejak SD, Wiji Thukul mulai sering menulis puisi, sehingga tertarik pada dunia teater ketika dibangku SMP.

Semenjak ia beranjak Dewasa, Wiji Bersama Komunitas Teater Jagat, pernah ngamen puisi diperkampuangan dan perkotaan. Selain itu, Wiji juga pernah menjual koran, Calo Karcis Bioskop dan berkerja sebagai pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Oktober 1989, ia menikah dengan Siti Dyah Sujirah atau Sipon, yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Wiji dan Sipon dikaruniai dua seorang anak, yakni Fitri Nganthi dan Fajar Merah.

Ia lahir dari keluarga yang sederhana, dan beragama Khatolik. Ayah Wiji, berprofesi sebagai penarik becak, dan ibunya kadang kala menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarganya.

Baca Juga:  Komunitas Berbagi Sedekah Gelar Berkah Bersama Santri

Tahun 1994, terjadi tragedi aksi petani di Ngawi, yakni Jawa Timur. Wiji Thukul merupakan pemimpin massa dan melakukan orasi, pada waktu itu juga Wiji Thukul atau Wiji Widodo ditangkap serta dipukuli Militer.

Dilain itu, 1992, Wiji ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan, yang dilakukan Pabrik Tekstil PT. Sariwarna Asli Solo. Selanjutnya, ia aktif di organisasi Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER).

Pada tahun 1995, Wiji mengalami cedera pada mata kanannya, yang disebabkan dibenturkan oknum aparat sewaktu ikut aksi protes karyawan PT. Sritex.

Semenjak tahun 1998, tepatnya 27 Juli, ada oknum yang menghilangkan jejaknya, sampai saat ini ia hilang. Wiji merupakan salah satu aktivis yang hilang dari belasan aktivis yang juga ikut hilang dijaman itu.

Pada bulan April tahun 2000, Sipon, istri Wiji Thukul melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi  Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS).

Dari kejadian itu, berbagai organisasi melakukan aksi, salah satunya Forum Sastra Surakarta (FSS) yang di inisiasi dan dimotori oleh Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo. Dengan mengadakan Forum Solidaritas atas hilangnya Penyair Wiji Thukul atau Wiji Widodo. Dengan berjudul “Thukul, Pulanglah” . bertempat di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta dan Jakarta.

Karya-karya yang dihasilkan dari hilangnya sang penyair Wiji Thukul, yakni ada beberapa, Peringatan Sajak Suara, Bunga, dan Tembok. Ketiga karya tersebut berada didalam buku antologi “Mencari Tanah Lapang”, yang ditebitkan Manus Amici, Belanda, Tahun 1994.

Namun, fakta yang sebenarnya Antologi tersebut diterbitkan oleh kerjsama KITLV dan Penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Penerbit fiktif Manus Amici digunakan, untuk menghindar dari pelarangan pemerintah pada jaman Orde Baru.

Baca Juga:  Berikut Kronologi  Anggota TNI Gagalkan Penyelundupan Sabu di Perbetasan RI - Malaysia

 

Refrensi:

Tempo; Edisi Khusus: Tragedi Mei 1998-2013, Jakarta: Tempo, 2013